Sepertinya ada yang mengganjal di dadaku. Sebuah rasa yang aku sendiri tidak paham. Namun begitu sulit ku ungkapkan rasa ini. Langkahku terasa berat menuju tempat Dody yang sedang berteduh bibawah pohon rindang di taman Kampus kami. Tapi entah ada dorongan apa kali ini aku memberanikan diri untu melangkah. Dody sedang begitu santai membaca buku disana di iringi angin sore yang sudah mulai sejuk. Saat Langkah ini semakin mendekat, ingin rasanya untuk berbalik arah dan tidak jadi menemuinya.

“ Mawar…kamu mau kemana ? “

Kata Dody membuat aku menghentikan langkahku yang ragu.

“eh Dody…eee Nina mana ? “ kataku dengan ekspresi wajah yang menurutku kaku.

Nina adalah sahabatku dan aku tahu dia sekarang menjadi pacarnya Dody. Mereka sudah satu tahun ini bersama. Nina juga sering cerita tentang hubungan mereka kepadaku. Sebelum mereka bersama, aku sudah lama mengagumi Dody. Dia adalah sosok yang menyenangkan buatku. Sebagai teman dia selalu mau membantu Ketika aku punya masalah, bahkan pun itu masalah keuangan. Dia juga bisa jadi pendengar yang baik Ketika aku cerita tentang masalahku saat waktu aku kehilangan papa yang meninggal dunia karena penyakit kanker. Dia sungguh adalah sosok yang aku kagumi. Sampai saat dia sudah jadian dengan Nina aku mulai menjaga jarak dengan dia.

“lho…bukannya tadi kamu bersama dia “ kata Dody dengan kening yang dikerutkan.

“oh…ia sih tapi aku fikir dia kesini “ kataku dengan terbata.

“emangnya kenapa War ? gak ada masalah kan ? “ kata Dody.

“enggak…” kataku singkat.

Dalam hatiku ingin ku ungkapkan perasaanku bahwa aku sungguh sangat mencintai Dody. Tapi di bibir ini begitu kelu tak berdaya untuk berbicara. Aku takut ini akan merusak semuanya. Mungkin ini akan merusak persahabatanku dengan Nina. Bahkan mungkin pertemananku dengan Dody, atau bahkan Dody akan menilai aku aneh. Tidak, aku tidak boleh egois dengan perasaan ini.

“ Dody…hubungan kamu dengan Nina baik-baik aja kan ?..” aku mengalihkan pembicaraanku kepada Dody.

“ Baik-baik aja emangnya kenapa War ? kata Dody.

“ enggak ..aku cuma takut Nina sedih karena sekarang ayahnya juga lagi sakit “ kataku seperti mengalihkan pembicaraan dan membuat topik baru. Aku tidak mengatakan yang sesungguhnya yang  aku rasakan. Fikiranku dan yang aku bicarakan berbeda.

“ Dod…aku ke Kantin dulu ya…” kataku untuk menghentikan pembicaraan ini dan pemikiranku tentang dia bersama gejolak perasaan ini.

Sungguh ini adalah keputusanku untuk menghentikan kebimbangan dan perasaanku yang bergejolak tentang dia. Biarlah aku yang melepaskan perasaan ini demi persahabatanku dengan Nina. Melihat Dody Bahagia dengan Nina kini sungguh buat aku bahagia. Mungkin inilah arti cinta tidak harus memiliki. (Dian Lestari)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *